Download (PDF)
PENGGUNAAN
ISTILAH-ISTILAH CINTA
DAN MAKNA MASING-MASING
ISTILAH-ISTILAH CINTA
DAN MAKNA MASING-MASING
2.
Cinta, Hubungan,
Segumpal Darah (العَلاَقَةُ / Al-Alaqah)
Al-Alaqah
bisa juga disebut al-alaq, seperti bentuk al-falaq, yang juga
termasuk salah saiu istilah cinta. Menurut Al-Jauhary, al-alaq juga berarti
‘nafsu’, seperti jika dikatakan, “Pandangan yang dimuati nafsu.” Seorang penyair
berkata,
Kuingin bersabar menghadapi dirimu
tapi nafsu yang terpendam lama menghalangiku
tapi nafsu yang terpendam lama menghalangiku
Bisa juga
dibaca al-aliqu, yang berarti ‘mencintai-dengan segenap hati’. Cinta
disebut dengan kata al-alaqah ‘hubungan’, karena hati selalu ingin berhungan
dengan orang yang dicintai. Dikatakan dalam sebuah syair,
hubungan antara ibu dan sang
putra
laksana uban yang bercampur rambut yang hitam
laksana uban yang bercampur rambut yang hitam
3.
Hasrat, Nafsu,
Keinginan (الهَــوَى
/ Al-Hawa)
Al-Hawa
adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu, bentukan dari kata hawiya yahwa hawan,
seperti bentuk amiya ya'ma aman. Sedangkan hawa yahwi artinya ‘jatuh’,
mashdar-nya ialah al-huwiyyu. Disebut al-hawa, karena ada
hasrat dan keinginan terhadap orang yang dicintai. Dikatakan dalam sebuah
syair,
Yang berhasrat merebut hatimu
telah bosan
lalu hasratmu dicipta seperti yang engkau inginkan
lalu hasratmu dicipta seperti yang engkau inginkan
Jika
dikatakan, “Inilah hasrat Fulan dan Fulanah menjadi hasrat Fulan.” Artinya
Fulanah itu menjadi orang yang diinginkan Fulan dan orang yang dicintainya.
Namun istilah al-hawa ini seringkali dikonotasikan untuk istilah cinta
yang tercela, seperti firman Allah,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ
مَقَامَ رَبِّه وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوى. فإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ
الْمَأْوى. {النازعات:٤٠–٤١}
“Dan,
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”
(An-Nazi'at: 40-41)
Cinta disebut
dengan istilah al-hawa ‘nafsu’ atau ’hasrat’ karena cinta menjadi nafsu
dan hasrat orang yang memllikinya. Namun adakalanya istilah al-hawa juga
digunakan untuk cinta yang terpuji sekalipun dengan batasan tertentu, seperti
sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ
تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ.
“Tidaklah
salah seorang di antara kalian beriman sehingga hasratnya mengikuti apa yang
kubawa.”
Di dalam Ash-shahihain
disebutkan dari Urwah, dia berkata, “Khaulah binti Hakim termasuk wanita yang
memasrahkan dirinya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu
Aisyah berkata, ‘Tidak malukah seorang wanita memasrahkan dirinya kepada
seorang laki-laki?”
Tatkala turun
ayat, “Kamu boleh menangguhkan menggauIi siapa yang kamuu kehendaki di antara
mereka (istri-istrimu)...”. saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat
Rabb engkau melainkan Dia ingin segera memenuhi hasrat engkau.”
Dalam kisah para
tawanan Perang Badar, Umar bin Al-Khaththab berkata, “Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam berhasrat terhadap pendapat Abu Bakar dan tidak berhasrat terhadap
pendapatku.” (Diriwayatkan di dalam Shahih Maslim).
Dalam As-Sunan
disebutkan bahwa ada seorang Araby yang berkata kepada Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, “Saya datang untuk bertanya kepada engkau tentang nafsu.”
Lalu beliau
bersabda, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.”
4.
Kerinduan (الصَّبْوَةُ / Ash-Shabwah)
Ash-shabwah
juga termasuk istilah cinta. Dikatakan di dalam Ash-Shahhah ash-shabwah
termasuk jenis kerinduan. Jika dikatakan, “Tashaba wa shaba yashbu shabwah
wa shubuw”, artinya condong kepada kebodohan. Jika dikatakan, “Ashbathul-jariyatu
wa shabiya shaba'an.” Artinya bermain-main dengan anak-anak.
Menurut
pendapat saya, asal makna kata ini adalah condong, seperti jika dikatakan, “Shaba
ila kadza”, artinya condong kepada sesuatu. Cinta disebut dengan istilah Shabwah,
karena pelakunya condong kepada wanita yang bersifat kekanak-kanakan. Jama’nya shabaya
seperti mathaya dari kata mathiyyah. Sedangkan tashaba
artinya ‘saling condong’.
Perbedaan antara
ash-shiba, ash-shabwah, at-tashaba, bahwa ash-shiba
adalah kecenderungan itu sendri, at-tashaba adalah saling nemberi
kecende-rungan, sedangkan ash-shabwah adalah bilangan kecenderungan itu.
Tapi juga bisa diartikan sebagai sifat seperti kata al-qaswah. Kata ini
disebutkan dalam perkataan Yusuf Alaihis-Salam,
وَاِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ أَصْبُ
إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِّنَ الجٰهِلِيْنَ. {يوسف:۳۳}
"Dan, jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka,
tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keingiran mereka) dan tentulah aka
termasuk orang-orang yang bodoh.” (Yusuf: 33).
5.
Kerinduan yang Halus
(الصَّبَابَةُ / Ash-Shababah)
Ash-Shababah
artinya ‘kerinduan yang halus’ dan juga bisa diartikan ‘kerinduan yang
membara’, sebagaimana yang dikatakan di dalam Ash-Shahhah. Jika
dikatakan, “Rajulun shabbun”, artinya orang yang rindu dendam. Dikatakan
dalam sebuah syair,
Engkau tidak bisa merindukan
orang yang berlalu
jika yang engkau rindukan tidak merindukanmu
jika yang engkau rindukan tidak merindukanmu
Ash-Shababah
merupakan bentuk mudha'af dari shabba yashabbu, sedangkan ash-shiba
dan ash-shabwah merupakan bentuk al-mu’tall. Kedua bentuk ini
mempunyai kesamaan lafazh dan makna. Seorang penyair berkata,
Orang yang dimabuk cinta
mengadukan rasa kerinduan
andaikan aku bisa menanggung
beban tatkala sendirian
Kata shabbun
bisa untuk mu'annats dan mudzakkar, seperti kata adlun.
6.
Cinta yang Mendalam
(الشَّغَفُ / Asy-Syaghaf)
Asy-Syaghaf
termasuk istilah cinta. Allah berfirman,
إِنَّا لَنَزٰهَا
فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ.{يوسف:۳٠}
“Sesungguhnya
cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam.” (Yusuf: 30).
Al-Jauhary dan
lain-lainnya berkata, “Asy-Syaghaf artinya ‘lapisan yang membungkus
hati' atau 'semacam pembungkus' atau 'kulit'. Jika dikatakan, “Syaghafahal-hubbu”,
artinya cinta orang itu mencapai kulitnya. lbnu Abbas mengartikan ayat ini, “Cintanya
merasuk hingga melewati kulit hati.”
7.
Cinta (المِقَةُ / Al-Miqatu)
Al-Miqatu
berasal dari kata wamiqa yamiqu menurut bentuk fi’Iatun,
yang artinya ‘cinta’. Bentuknya seperti al-'izhatu, al-'idatu, az-zinatu.
Wamiqa yamiqu artinya ‘mencintai’, dan orang yang mencintai disebut wamiqun.
8.
Cinta yang Disertai
Rasa Sedih (الوَجْــــدُ
/ Al-Wajdu)
Al-Wajdu
artinya ‘cinta yang berbuntut kesedihan’, karena memang kata ini lebih sering
digunakan untuk hal-hal yang sedih. Untuk itu dikatakan “Wajada wajdan”.
Ada
bentukan-bentukan lain untuk kata ini. Jika dikatakan, “Wajada mathlubahu”,
artinya mendapatkan apa yang dicari. Ketergantungan kepada sesuatu yang hilang
darinya disebut wijdanan. Wajda maujidatan artinya ‘saat marah’, wajada
wajdan artinya ‘saat sedih’, wajada fil-mal jidatan artinya ‘merasa
sudah kaya’. Mengartikan al-wajdu hanya untuk pengertian cinta, tidak
dibenarkan. Artinya yang benar adalah cinta yang berakhir dengan kesedihan.
9.
Cinta yang Mendalam
(الكَلَــفُ / AI-KaIaf)
Al-Kalaf
termasuk salah satu istilah cinta. Jika dikatakan, “Kaliftu bihadzal-amri”,
artinya saya mencintainya. Berarti saya disebut kalifun ‘yang mencintai’.
Seorang penyair berkata,
Ketahuilah tentang cintaku padamu
setelah itu perbuatlah semaumu
setelah itu perbuatlah semaumu
Arti dasarnya
dari al-kulfah adalah ‘kesulitan’. Jika dikatakan, “Kallafahu
taklifan”, artinya dia membebaninya sesuatu yang sulit. Allah berfirman,
لاَيُكَلِّفُ اللهُ
نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا. {البقرة:۲۸٦}
“Allah tidak
menbebani sesearang melainkan sasuai dengan kesanggupannga.” (Al-Baqarah:
286).
AI-KuIfah
artinya hak yang dibedankan. Sedangkan kata al-mutakallif artinya orang
yang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan, seperti firman Allah,
قُلْ مَآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآ
اَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ. {ص:۸٦}
“Katakanlah (hai
Muhammad), ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas seruanku, dan
bukanlah aku tetmasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (Shad: 86).
Al-Kalaf
juga bisa berarti warna merah yang agak kehitam-hitaman, atau bintik merah
kehitam-hitaman di wajah.
10. Penghambaan (التَّتَيَّـــمُ / At-Tatayyum)
At-Tatayyum
artinya ‘penghambaan’. Dikatakan di dalam Ash-Shahhah, “Taimullah”,
artinya hamba Allah. Jika dikatakan, “Tayyamahul-hubbu”, artinya diperhamba
cinta. Orangnya disebut mutayyim. Jika dikatakan, “Tamathul- mar'atu”,
artinya laki-laki yang diperhamba wanita. Luqaith bin Zurarah berkata di dalam
syairnya,
Hatimu diperhamba saat dirundung
kesedihan
oleh seorang wanita dari bani Dzuhl bin Syaiban
oleh seorang wanita dari bani Dzuhl bin Syaiban


0 Komentar:
Posting Komentar
Apa tanggapan anda setelah membaca artikel di atas?