Bab 2 Bagian 2-10

Download (PDF)

PENGGUNAAN
ISTILAH-ISTILAH CINTA
DAN MAKNA MASING-MASING

       2.      Cinta, Hubungan, Segumpal Darah (العَلاَقَةُ / Al-Alaqah)
Al-Alaqah bisa juga disebut al-alaq, seperti bentuk al-falaq, yang juga termasuk salah saiu istilah cinta. Menurut Al-Jauhary, al-alaq juga berarti ‘nafsu’, seperti jika dikatakan, “Pandangan yang dimuati nafsu.” Seorang penyair berkata,
Kuingin bersabar menghadapi dirimu
tapi nafsu yang terpendam lama menghalangiku
Bisa juga dibaca al-aliqu, yang berarti ‘mencintai-dengan segenap hati’. Cinta disebut dengan kata al-alaqah ‘hubungan’, karena hati selalu ingin berhungan dengan orang yang dicintai. Dikatakan dalam sebuah syair,
hubungan antara ibu dan sang putra
laksana uban yang bercampur rambut yang hitam


       3.      Hasrat, Nafsu, Keinginan (الهَــوَى / Al-Hawa)
Al-Hawa adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu, bentukan dari kata hawiya yahwa hawan, seperti bentuk amiya ya'ma aman. Sedangkan hawa yahwi artinya ‘jatuh’, mashdar-nya ialah al-huwiyyu. Disebut al-hawa, karena ada hasrat dan keinginan terhadap orang yang dicintai. Dikatakan dalam sebuah syair,
Yang berhasrat merebut hatimu telah bosan
lalu hasratmu dicipta seperti yang engkau inginkan
Jika dikatakan, “Inilah hasrat Fulan dan Fulanah menjadi hasrat Fulan.” Artinya Fulanah itu menjadi orang yang diinginkan Fulan dan orang yang dicintainya. Namun istilah al-hawa ini seringkali dikonotasikan untuk istilah cinta yang tercela, seperti firman Allah,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّه وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوى. فإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوى. {النازعات:٤٠–٤١}
“Dan, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi'at: 40-41)
Cinta disebut dengan istilah al-hawa ‘nafsu’ atau ’hasrat’ karena cinta menjadi nafsu dan hasrat orang yang memllikinya. Namun adakalanya istilah al-hawa juga digunakan untuk cinta yang terpuji sekalipun dengan batasan tertentu, seperti sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ.
“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sehingga hasratnya mengikuti apa yang kubawa.”
Di dalam Ash-shahihain disebutkan dari Urwah, dia berkata, “Khaulah binti Hakim termasuk wanita yang memasrahkan dirinya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu Aisyah berkata, ‘Tidak malukah seorang wanita memasrahkan dirinya kepada seorang laki-laki?”
Tatkala turun ayat, “Kamu boleh menangguhkan menggauIi siapa yang kamuu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu)...”. saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Rabb engkau melainkan Dia ingin segera memenuhi hasrat engkau.”
Dalam kisah para tawanan Perang Badar, Umar bin Al-Khaththab berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berhasrat terhadap pendapat Abu Bakar dan tidak berhasrat terhadap pendapatku.” (Diriwayatkan di dalam Shahih Maslim).
Dalam As-Sunan disebutkan bahwa ada seorang Araby yang berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Saya datang untuk bertanya kepada engkau tentang nafsu.”
Lalu beliau bersabda, “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya.”

       4.      Kerinduan (الصَّبْوَةُ / Ash-Shabwah)
Ash-shabwah juga termasuk istilah cinta. Dikatakan di dalam Ash-Shahhah ash-shabwah termasuk jenis kerinduan. Jika dikatakan, “Tashaba wa shaba yashbu shabwah wa shubuw”, artinya condong kepada kebodohan. Jika dikatakan, “Ashbathul-jariyatu wa shabiya shaba'an.” Artinya bermain-main dengan anak-anak.
Menurut pendapat saya, asal makna kata ini adalah condong, seperti jika dikatakan, “Shaba ila kadza”, artinya condong kepada sesuatu. Cinta disebut dengan istilah Shabwah, karena pelakunya condong kepada wanita yang bersifat kekanak-kanakan. Jama’nya shabaya seperti mathaya dari kata mathiyyah. Sedangkan tashaba artinya ‘saling condong’.
Perbedaan antara ash-shiba, ash-shabwah, at-tashaba, bahwa ash-shiba adalah kecenderungan itu sendri, at-tashaba adalah saling nemberi kecende-rungan, sedangkan ash-shabwah adalah bilangan kecenderungan itu. Tapi juga bisa diartikan sebagai sifat seperti kata al-qaswah. Kata ini disebutkan dalam perkataan Yusuf Alaihis-Salam,
وَاِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِّنَ الجٰهِلِيْنَ. {يوسف:۳۳}
"Dan, jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keingiran mereka) dan tentulah aka termasuk orang-orang yang bodoh.” (Yusuf: 33).

       5.      Kerinduan yang Halus (الصَّبَابَةُ / Ash-Shababah)
Ash-Shababah artinya ‘kerinduan yang halus’ dan juga bisa diartikan ‘kerinduan yang membara’, sebagaimana yang dikatakan di dalam Ash-Shahhah. Jika dikatakan, “Rajulun shabbun”, artinya orang yang rindu dendam. Dikatakan dalam sebuah syair,
Engkau tidak bisa merindukan orang yang berlalu
jika yang engkau rindukan tidak merindukanmu
Ash-Shababah merupakan bentuk mudha'af dari shabba yashabbu, sedangkan ash-shiba dan ash-shabwah merupakan bentuk al-mu’tall. Kedua bentuk ini mempunyai kesamaan lafazh dan makna. Seorang penyair berkata,
Orang yang dimabuk cinta mengadukan rasa kerinduan
andaikan aku bisa menanggung beban tatkala sendirian
Kata shabbun bisa untuk mu'annats dan mudzakkar, seperti kata adlun.

       6.      Cinta yang Mendalam (الشَّغَفُ / Asy-Syaghaf)
Asy-Syaghaf termasuk istilah cinta. Allah berfirman,
إِنَّا لَنَزٰهَا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ.{يوسف:۳٠}
Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam.” (Yusuf: 30).
Al-Jauhary dan lain-lainnya berkata, “Asy-Syaghaf artinya ‘lapisan yang membungkus hati' atau 'semacam pembungkus' atau 'kulit'. Jika dikatakan, “Syaghafahal-hubbu”, artinya cinta orang itu mencapai kulitnya. lbnu Abbas mengartikan ayat ini, “Cintanya merasuk hingga melewati kulit hati.”

       7.      Cinta (المِقَةُ / Al-Miqatu)
Al-Miqatu berasal dari kata wamiqa yamiqu menurut bentuk fi’Iatun, yang artinya ‘cinta’. Bentuknya seperti al-'izhatu, al-'idatu, az-zinatu. Wamiqa yamiqu artinya ‘mencintai’, dan orang yang mencintai disebut wamiqun.

       8.      Cinta yang Disertai Rasa Sedih (الوَجْــــدُ / Al-Wajdu)
Al-Wajdu artinya ‘cinta yang berbuntut kesedihan’, karena memang kata ini lebih sering digunakan untuk hal-hal yang sedih. Untuk itu dikatakan “Wajada wajdan”.
Ada bentukan-bentukan lain untuk kata ini. Jika dikatakan, “Wajada mathlubahu”, artinya mendapatkan apa yang dicari. Ketergantungan kepada sesuatu yang hilang darinya disebut wijdanan. Wajda maujidatan artinya ‘saat marah’, wajada wajdan artinya ‘saat sedih’, wajada fil-mal jidatan artinya ‘merasa sudah kaya’. Mengartikan al-wajdu hanya untuk pengertian cinta, tidak dibenarkan. Artinya yang benar adalah cinta yang berakhir dengan kesedihan.

       9.      Cinta yang Mendalam (الكَلَــفُ / AI-KaIaf)
Al-Kalaf termasuk salah satu istilah cinta. Jika dikatakan, “Kaliftu bihadzal-amri”, artinya saya mencintainya. Berarti saya disebut kalifun ‘yang mencintai’. Seorang penyair berkata,
Ketahuilah tentang cintaku padamu
setelah itu perbuatlah semaumu
Arti dasarnya dari al-kulfah adalah ‘kesulitan’. Jika dikatakan, “Kallafahu taklifan”, artinya dia membebaninya sesuatu yang sulit. Allah berfirman,
لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا. {البقرة:۲۸٦}
Allah tidak menbebani sesearang melainkan sasuai dengan kesanggupannga.” (Al-Baqarah: 286).
AI-KuIfah artinya hak yang dibedankan. Sedangkan kata al-mutakallif artinya orang yang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan, seperti firman Allah,
قُلْ مَآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآ اَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ. {ص:۸٦}
Katakanlah (hai Muhammad), ‘Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas seruanku, dan bukanlah aku tetmasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (Shad: 86).
Al-Kalaf juga bisa berarti warna merah yang agak kehitam-hitaman, atau bintik merah kehitam-hitaman di wajah.

       10.  Penghambaan (التَّتَيَّـــمُ / At-Tatayyum)
At-Tatayyum artinya ‘penghambaan’. Dikatakan di dalam Ash-Shahhah, “Taimullah”, artinya hamba Allah. Jika dikatakan, “Tayyamahul-hubbu”, artinya diperhamba cinta. Orangnya disebut mutayyim. Jika dikatakan, “Tamathul- mar'atu”, artinya laki-laki yang diperhamba wanita. Luqaith bin Zurarah berkata di dalam syairnya,
Hatimu diperhamba saat dirundung kesedihan
oleh seorang wanita dari bani Dzuhl bin Syaiban

0 Komentar:

Posting Komentar

Apa tanggapan anda setelah membaca artikel di atas?